PERDARAHAN DI LUAR HAID
Perdarahan di luar haid
adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara dua haid. Ada dua macam
perdarahan di luar haid yaitu metroragia
dan menoragia.
Metroragia adalah
perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan
ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai spotting dan dapat lebih
diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh.
Beberapa penyebab dari
perdarahan di luar haid yaitu :
·
Polip serviks
·
Erosi portio
·
Ulkus portio
·
Trauma
·
Polip endometrium
A. Polip
Serviks
1.
Pengertian
Polip
adalah tumor bertangkai yang kecil dan tumbuh dari permukaan mukosa. Servikal
polip adalah polip yang terdapat dalam kanalis servikalis (Tiran, 2005).
Menurut Sarwono (1999) polip
merupakan suatu adenoma maupun adenofibroma yang berasal dari selaput lendir
endoservik. Polip servik tumbuh dari kanal serviks dengan pertumbuhan ke arah
vagina. Secara hispatologi, polip serviks sebagian besar bersifat jinak.
2.
Jenis Polip Serviks
a. Polip
Ektoserviks
Polip yang tmbuh dari lapisan
permukaan luar serviks. Polip ini sering diderita oleh wanita yang telah
memasuki periode pasca menopause, meskipun dapat pula diderita oleh usia
produktif.
b. Polip
Endoserviks
Yaitu pertumbuhan polip berasal
dari bagian dalam serviks. Biasanya pada wanita premenopause (di atas usia 20
tahun) dan telah memiliki setidaknya satu anak.
3.
Etiologi Polip Serviks
Penyebab
tidak sepenuhnya dipahami oleh para ahli. Mungkin asil dari infeksi atau
peradangan kronis panjang, respon abnormal untuk peningkatan tingkat estrogen,
dan dalam kemacetan pembuluh darah di saluran leher rahim.
4.
Tanda dan Gejala Polip Serviks
a. Tanpa
gejala
Polip serviks biasa dialamai seseorang
tanpa atau ia tahu sebenarnya memliki polip serviks.
b. Leukorea
yang sulit disembuhkan.( sudah digunakan berbagai macam obat, dan
personal hygine telah dijaga tetapi leokorea belum juga sembuh).
c. Terasa
discomfort dalam vagina ( yaitu perasaan tidak nyaman dalam vagina, baik
setelah buang air maupun dalam kondisi biasa).
d. Kontak
berdarah ( Misalnya , vagina selalu mengeluarkan darah setelah melakukan
hubungan seks. Perlu dijurigai adanya polip serviks).
e. Terdapat
infeksi.
5.
Diagnosis
a. Berdasarkan
keluhan yang dikemukakan.
b. Pada
pemeriksaan inspekulum dijumpai :
1) Jaringan
bertambah.
2) Mudah
berdarah.
3) Terdapat
pada vagina bagian atas.
6.
Penatalaksanaan
Dengan
tindakan kauterisasi yaitu polip
hanya dipelintir sampai putus, kemudian tangkainya di kuret. Tindakan dilakukan
dalam pembiusan umum (general anasthesia). Selanjutnya jaringan polip dikirim
ke laboratorium patologi guna memastikan bahwa histologis-nya jinak/sesuai
dengan gambaran jaringan polip serviks. Kemungkinan ganasnya kecil.
B. Erosi
Portio
1. Pengertian
Erosi
portio adalah suatu proses peradangan atau suatu luka yang terjadi pada daerah
portio serviks uteri (mulut rahim). Erosi porsio atau
disebut juga dengan erosi serviks adalah hilangnya sebagian / seluruh permukaan
epitel squamous dari serviks. Jaringan yang normal pada permukaan dan atau
mulut serviks digantikan oleh jaringan yang mengalami inflamasi dari kanalis
serviks. Jaringan endoserviks ini berwarna merah dan granuler, sehingga serviks
akan tampak merah, erosi dan terinfeksi. Erosi serviks dapat menjadi tanda awal
dari kanker serviks (Winkjosastro,2005:167).
2. Klasifikasi
Erosi Portio
a. Erosi
ringan : meliputi ≤ ⅓ total area
serviks.
b. Erosi
sedang : meliputi ⅓ - ⅔ total area
serviks.
c. Erosi
berat : meliputi ≥ ⅔ total area
serviks.
3. Etiologi
Erosi Portio
a. Keterpaparan suatu benda pada saat pemasangan AKDR.
Pada saat pemasangan alat kontrasepsi yang digunakan tidak steril yang dapat
menyababkan infeksi. AKDR juga mengakibatkan bertambahnya volume dan lama haid
(darah merupakan media subur untuk berkembangbiaknya kuman) penyebab terjadi
infeksi.
b. Dalam
kehamilan : sangat umum ditemuan dalam kehamilan karena level esterogen yang
tinggi. Erosi portio dapat menyebabkan perdarahan minimal selama kehamilan,
biasanya saat berhubungan seksual.
c. Pada
wanita yang mengkonsumsi pil KB dengan level esterogen yang tinggi.
d. Wanita
yang menjalani Hormon Replacement Therapy (HRT) karena penggunaan esterogen
pengganti dalam tubuh berupa pil,krim,dll.
e. Infeksi
: adanya infeksi dapat
menyebabkan Epitel Portio menipis sehingga mudah menggalami Erosi Portio, yang
ditandai dengan sekret bercampur darah, metrorrhagia, ostium uteri eksternum
tampak kemerahan, sekred juga bercampur dengan nanah, ditemukan ovulasi
nabathi. (Winkjosastro, 2005).
4. Tanda
dan Gejala
a. Mayoritas
tanpa gejala.
b. Perdarahan
vagina abnormal yang terjadi :
1) Postcoital
bleeding
2) Metroragia,
3) Disertai
keluarnya mucus yang jernih/kekuningan, dapat berbau jika disertai infeksi
vagina.
c. Erosi
disebabkan karena inflamasi sehingga sekresi serviks meningkat secara
signifikan, membentuk mukus, mengandung banyak sel darah putih, sehingga ketika
sperma melewati serviks akan mengurangi vitalitas sperma dan menyulitkan
perjalanan sperma. Hal ini dapat menyebakan infertilitas pada wanita.
5. Penatalaksanaan
a. Memberikan
sediaan Polycresulent dengan sediaan 36%, yang biasa dipakai merk “Albothyl” di
daerah erosi portio. Untuk meregenerasi sel-sel yang rusak.
b. Melakuakn
rujukan untuk terapi lanjutan guna penatalaksanaan pemberian obat berupa :
1) Lyncopar
3 x 1/ 8 jam untuk infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri /streptokokus
pneomokokus stafilokokus dan infeksi kulit dan jaringan lunak.
2) Analgesik
diberikan 3 x 1 / 8 jam untuk menghilangkan rasa nyeri.
C. Ulkus
Portio
1. Pengertian
Ulkus
portio adalah suatu perdarahan dan luka yang terjadi pada portio, biasanya berwarna
merah dengan batas yang tidak jelas pada ostium uteri eksternum (OUE).
Ulkus
portio ialah sekitar ostium uteri eksternum berwarna merah menyala dan agak
mudah berdarah (Tiran,2005)
2. Etiologi
Ulkus Portio
a. Perlakuan
seksual yang tidak sehat.
b. Keterpaparan
suatu benda pada saat pemasangan AKDR.
Pada saat pemasangan AKDR alat yang
digunakan tidak steril yang dapat menyebabkan infeksi.
c. Adanya
trauma.
3. Tanda
dan Gejala Ulkus Portio
a. Adanya
fluksus
b. Pada
pemeriksaan inspekulo portio terlihat kemerahan dengan batas tidak jelas.
c. Adanya
contact bledding.
d. Pada
pemeriksaan dalam portio teraba tidak rata.
Sekresi sekret vagina yang
meningkat yang menyebabkan kerentanan sel superficialis,dari semua kejadian
ulkus portio itu menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen, bila sampai kronis
menyebabkan metastase keganasan leher rahim.
4. Peatalaksanaan
a. Membatasi
hubungan suami istri.
Adanya ulkus portio membuat portio
mudah sekali berdarah setiap kali mengalami gesekan sekecil apapun, sehingga
sebaiknya coitus dihindari sampai ulkus sembuh.
b. Menjada
kebersihan vagina.
Bila kebersihan vagina tidak
dijaga, maka akan dapat memperburuk kondisi portio, sebab akan semakin rentan
terhadap infeksi lainnya.
c. Lama
pemakaian IUD harus diperhatikan.
D. Trauma
1. Pengertian
Trauma adalah
dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis. Pengertian medis
menyatakan trauma atau perlukan adalah hilangnya diskontinuitas dari jaringan.
Sedangkan
dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda
yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang akibat efek dari alat atau
benda yang dapat menimbulkan kecederaan (Tiran,2005)
2. Etiologi
Trauma
Pada
akseptor IUD dan usai berhubungan intim (uamanya pada wanita yang telah
menopause). Tempat perlukaan paling sering akibat coitus adalah dinding lateral
vagina, vorniks posterior dan kubah vagina (setelah histerektomi).
3. Tanda
dan Gejala Trauma
Nyeri vulva dan vagina, perdarahan
dan pembengkakan merupakan gejala yang paling khas. Kemungkinan gejala lainnya
adalah kesulitan urinasi dan ambulasi.
4. Penatalaksanaan
Penanganannya sesuai dengan
penyebabnya , misalnya trauma yang disebabkan translokasi IUD, maka IUD nya
harus dicabut, dan diganti dengan alat kontrasepsi lain.Sedangkan pada wanita
yang menopause yang mengalami perdarahan setelah koitus, bisa diberi terapi
hormon.
E. Polip
Endomertium
1. Pengertian
Polip
endometrium disebut juga polip rahim, yaitu pertumbuha kecil yang tumbuh sangat
lambat dalam dinding rahim, memiliki basis datar besar dan melekat pada rahim,
berbentuk bulat atau oval dan biasanya berwarna merah.
Polip
endometrium adalah massa atau jaringan lunak yang tumbuh pada lapisan dinding
bagian dalam endometrium dan menonjol ke dalam rongga endometrium. Pertumbhan
sel-sel yang berlebih pada lapisan endometrium (rahim) mengarah pada
pembentukan polip.
2. Etiologi
Polip Endometrium
Polip ini berasal dari adenoma
adenofibroma, plasenta yang tertinggal setelah partus/abortus,dan mioma
submukosum.
a. Adenoma
adenofibroma
Terdiri dari epitel endomerium
dengan stroma yang sesuai dengan daur haid, merupkan hiperplasia endometrium,
konsistensi lunak, berrwarna kemerahan. Gangguan yang sering ditimbulkan adalah
metroragia sampai menometroragia dan infertilitas.
b. Polip
plasenta
Berasal dari plasenta yang
tertinggal setelah partus maupun abortus. Menyebabkan uterus mengalami
subinvolusi yang menimbulkan perdarahan.
c. Mioma
submukosum
Sarang mioma dapat tumbuh
bertangkai, keluar dari uterus sebagai mioma yang dilahirkan (miom geburt).
Tumor berkonsistensi kenyal berwarna putih.
3. Tanda
dan Gejala Polip Endometrium
a. Perdarahan
menstruasi yang berkepanjangan dan tidak teratur.
b. Rasa
sakit atau dismenorea.
c. Perdarahan
haid yang terlalu berat.
d. Perdarahan
vagina setelah menopause.
e. Infertilitas.
f. Dispareunia.
4. Penatalaksanaan
Polip endometrium dapat dideteksi
melalui pelebaran dan kuretase (D & C), CT scan, ultrasound atau
histeroskopi. Histeroskopi adalah prosedur dimana lingkup kecil dimasukkan
melalui leher rahim ke dalam rongga rahim untuk mencari polip atau kelainan
rahim lainnya.
Polip endometrium dapat dihapus dan diobati melalui operasi dengan menggunakan kuretase atau histerektomi. Jika kuretase dilakukan, polip dapat terjawab tapi untuk mengurangi risiko ini, rahim biasanya dieksplorasi oleh histeroskopi pada awal proses bedah. Sebuah polip besar dapat dipotong menjadi bagian-bagian sebelum sepenuhnya disingkirkan. Jika ditemukan polip menjadi kanker, histerektomi harus dilakukan. Ada probabilitas tinggi kekambuhan polip bahkan dengan perawatan di atas.
Polip endometrium dapat dihapus dan diobati melalui operasi dengan menggunakan kuretase atau histerektomi. Jika kuretase dilakukan, polip dapat terjawab tapi untuk mengurangi risiko ini, rahim biasanya dieksplorasi oleh histeroskopi pada awal proses bedah. Sebuah polip besar dapat dipotong menjadi bagian-bagian sebelum sepenuhnya disingkirkan. Jika ditemukan polip menjadi kanker, histerektomi harus dilakukan. Ada probabilitas tinggi kekambuhan polip bahkan dengan perawatan di atas.
5. Komplikasi
dan Faktor Resiko
Polip
endometrium biasanya sel jinak. Mereka dapat menjadi prakanker atau kanker.
Sekitar 0,5 persen dari polip endometrium mengandung sel-sel adenokarsinoma.
Sel-sel ini akhirnya akan berkembang menjadi kanker. Polip dapat meningkatkan
risiko keguguran pada wanita yang menjalani fertilisasi in vitro dalam
perawatan. Jika mereka berkembang dekat saluran telur akan dapat menjadi
penyebab kesulitan hamil.
Polip rahim biasanya terjadi pada wanita di usia 40-an dan 50-an. Wanita yang memiliki faktor risiko tinggi adalah mereka yang mengalami obesitas, memiliki tekanan darah tinggi. dan memiliki sejarah polip dalam keluarga.
Terapi penggantian hormon dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya polip endometrium. Wanita yang menggunakan hormonal Intra Uterine Device yang tingkat tinggi levonorgestrel dapat mengurangi kejadian polip. Satu dari setiap sepuluh perempuan dapat memiliki polip endometrium, dan diperkirakan bahwa sekitar 25 persen dari mereka yang mengalami pendarahan vagina abnormal memiliki polip endometrium.
Polip rahim biasanya terjadi pada wanita di usia 40-an dan 50-an. Wanita yang memiliki faktor risiko tinggi adalah mereka yang mengalami obesitas, memiliki tekanan darah tinggi. dan memiliki sejarah polip dalam keluarga.
Terapi penggantian hormon dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya polip endometrium. Wanita yang menggunakan hormonal Intra Uterine Device yang tingkat tinggi levonorgestrel dapat mengurangi kejadian polip. Satu dari setiap sepuluh perempuan dapat memiliki polip endometrium, dan diperkirakan bahwa sekitar 25 persen dari mereka yang mengalami pendarahan vagina abnormal memiliki polip endometrium.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, Amri. Rangkaian Ilmu Kdokteran Forensik. Edisi
Kedua. 1995. Medan : Ramadhan.
http://belajarbersamalagi.blogspot.com/2012/04/perdarahan-di-luar-haid.html?m=1
(Diakses tanggal 18 September 2013)
http://jukiastymarsuki.blogspot.com/2013/07/polip/endometrium.html?m=1
(Diakses tanggal 18 September 2013)
Manuaba, Ida
Bagus. 2004. Kepaniteraan Klinik Obstetri
dan Gynekologi edisi II. Jakarta : EGC.
Padjajaran,
Universitas. 2003. Obstetri Patologi
Edisi 2. Jakarta : EGC.
Sylvia A. Dirce,
Lorraine M Wilson. 2005. Patofisiologi Volume II. Konsep Klinis Proses Penyakit.
Jakarta : EGC.
Tiran, Denise.
2005. Kamus Saku Bidan. Jakarta : EGC.
Winkjosastro,
Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiriharjo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar