Beban ganda (double burden)
A.
Definisi Beban Ganda
Double
garden atau yang biasanya disebut beban ganda, merujuk kepadakenyataan bahwa
perempuan cenderung bekerja lebih lama dan lebih sedikitharinya dibandingkan
laki-laki sebagaimana biasanya mereka terlibat dalamtiga peran gender yang
berbeda-reproduksi, produksi dan dan peran dimasyarakat.
Beban
ganda perempuan merupakan salah satu bentuk ketidakadilangender yang tidak
hanya terjadi di lapisasn sosial kelas atas dan menengahsaja. Beban ganda juga
terjadi pada lapisan sosial kelas bawah, seperti
dalamsebuah komunitas marginal. Komunitas marginal merupakan sebuah
bagianmasyarakat yang memiliki lokalitas di wilayah tertentu, memiliki
batas-batastertentu, memiliki interaksi sosial yang lebih besar diantara para
anggotanyabila dibandingkan dengan anggota di luar kelompoknya, dan memiliki
ciriyang sama.
Peran
reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis danpermanen.Walaupun
sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerjadiwilayah public, namun
tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka diwilayah domestic. Upaya
maksimal yang dilakukan mereka adalahmensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada
perempuan lain, sepertipembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan
lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak
perempuan.Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.
Perempuan
yang melakukan pekerjaan di luar rumah seperti bertani,berdagang, membuat
emping atau kesed juga tetap harus melakukan kerja-kerja reproduksi. Sehingga
dalam sehari semalam, sebagian besar waktuperempuan dicurahkan untuk
keluarganya. Berbagai observasi menunjukkan bahwa perempuan mengerjakan
hampir90 persen dari pekerjaan dalam rumah tangga.Karena itu, bagi
perempuanyang bekerja di luar rumah, selain bekerja di wilayah publik, mereka
jugamasih harus mengerjakan pekerjaan domestic.
Berbagai
bentuk diskriminasi merupakan hambatan untuk tercapainyakeadilan dan kesetaraan
gender atau kemitrasejajaran yang harmonis antaraperempuan dan laki-laki,
karena dapat menimbulkan:
a) Konflik
b) Stres pada salah satu pihak
c) Relasi gender yang kurang harmonis
Perempuan
harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan,membersihkan rumah dan dapur,
mengasuh anak kemudian melakukanpekerjaannya sampai tengah hari untuk istirahat
sejenak.repotnya, ketikaistirahatpun perempuan masih dibebani dengan pekerjaan
di rumah;menyiapkan makan siang, mengasuh anak. Setelah itu baru
melanjutkanpekerjaannya sampai sore.Untuk kembali melakukan pekerjaan
reproduktif sampai malam. Di sela-sela waktu ini, beberapa perempuan
masihmenyibukkan diri untuk mengerjakan pekerjaannya seperti membuat
kesed,mengupas kulit mlinjo, dan lainnya.
Bandingkan
dengan laki-laki yang bangun paginya sedikit lebih siangitupun hanya untuk
menikmati minuman pagi dan sarapan, baru kemudianberangkat kerja sampai tengah
hari. Lalu istirahat dan makan siang,melanjutkan pekerjaannya sampai sore,
istirahat, makan dan bersantai sampaimelam hari. Di malam hari, paling mereka
melakukan aktivitas social seperti ngendong ke tetangga, kumpulan RT, tahlilan
dan lain-lain yangbiasanya hanya beberapa hari sekali.Dari contoh di atas,
sangat terlihat adanya beban ganda perempuan, disatu sisi mereka harus
mengerjakan pekerjaan reproduktif, di sisi lain, baik karena aktualisasi
diri atau tuntutan ekonomi mereka melakukan kerja-kerjaproduktif. Tanpa adanya
pembagian kerja-kerja reproduktif secara lebihseimbang.
Beban
ganda yang dialami oleh perempuan sampai saat ini masihdianggap sebagai
kewajaran dalam masyarakat kita.Padahal beban gandayang dialami oleh perempuan
adalah salah satu bentuk kekerasan domestik sebagai dampak dari pembagian
peran yang tidak seimbang antara laki-lakidan perempuan.
Pada
saat ini wanita telah mengalami kemajuan dalam berbagai hal.Fenomena wanita
bekerja bukan merupakan hal yang aneh lagi bagi masyarakat kita.Wanita jaman
sekarang bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum pria.Dalam
dunia politik pun tidak luput dari campur tangan wanita, bangsa Indonesia pun
pernah di pimpin oleh pemimpin wanita.Hal ini dapat membuktikan bahwa wanita
diberai kesempatan yang besar untuk menjalankan kiprahnya didunia kerja.
Perlu
dipahami bahwa fenomena wanita berperan ganda sebagai ibu tumah tangga
sekaligus bekerja diluar rumah, dan juga sebagai pemimpin wanita
sebenarnya sudah ada sejak dulu. Pada awal abad 19, di luar negeri wanita
yang sebelumnya berfungsi sebagai pekeraja terampil pada usaha-usaha rumah
tangga yang memproduksi sampai memasarkan mulai beralih.
Dampak
dari revolusi industri membuat wanita banyak berpaling untuk melakukan
pekerjaan di luar rumah untuk menghidupi dan menambah penghasilan keluarga.
Menurut
data statistik Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) tahun
2003 – 2005. Pada tahun 2003 angkatan kerja wanita mencapai 35,479,000 atau
35.36% dari angkatan kerja keseluruhan, 25.55% dari 35 juta tersebut merupakan
pekerja di sektor publik. Tahun 2004 angkatan kerja wanita naik menjadi
38,046,000 atau 34.66 % dari angkatan kerja keseluruhan, 27.58 % bekerja di
sektor publik. Tahun 2005 juga mencatat kenaikan angkatan kerja wanita yang
mencapai 39,580,488 atau 37.40 % dari angkatan kerja keseluruhan, 26.98% dari
angka tersebut merupakan pekerja sektor publik.
Bekerja
bagi setiap wanita adalah sebuah pilihan.Gerson (1985, dalam Nainggolan, dkk,
1996:78) menyatakan bahwa keputusan wanita untuk bekerja dipengaruhi oleh
faktor yang sifatnya komulatif, interaktif dan terus berkembang dipengaruhi
baik secara langsung atau tidak dari masyarakat, keluarga dan diri sendiri
sehubungan dengan harapan-harapan tertentu terhadap peran wanita yang sekaligus
ibu.
Keputusan
untuk mengambil dua peran berbeda yaitu di rumah tangga dan di tempat kerja
tentu diikuti dengan tuntutan dari dalam diri sendiri dan masyarakat. Tuntutan
dari diri sendiri dan sosial ini menyerukan hal yang sama yaitu keberhasilan
dalam dua peranan tersebut. Idealnya memang setiap wanita bisa menjalani semua
peran dengan baik dan sempurna, namun ini bukanlah hal mudah.
Banyak
wanita berperan ganda mengakui bahwa secara operasional sulit untuk membagi
waktu bagi urusan rumah tangga dan urusan kantor (Izzaty, 1999). Dalam Hurlock
(1992) bahwa wanita tidak menyukai kalau harus melaksanakan beban tugas ganda,
satu tugas dalam dunia perkantoran dan satu lagi tugas rumah tangga.Wanita
merasa bersalah karena menolak tugas rumah tangga, contohnya dari sekian banyak
tugas rumah tangga hanya tugas merawat anak yang dapat dilakukan atau bahkan
tugas ini dilakukan oleh baby sitter.Akibatnya bagi wanita pekerja, maka
kehidupan rumah tangga mereka merasa tidak memuaskan.
B. Contoh Kasus
Ini merupakan contoh kasus konflik pada wanita yang berperan
ganda:
Deni
dan Susan, adalah salah satu pasangan yang menjalani pernikahan dengan beda
pendapatan tersebut. Saat Deni kena PHK dari pekerjaannya dengan jabatan
sebagai manajer sebuah bank, ia pun harus mencari pekerjaan lain. Pekerjaan
barunya kini ternyata gajinya lebih kecil dari sang istri, Susan yang bekerja
sebagai kepala HRD sebuah perusahaan. Kini setelah menjadi orang yang
pendapatannya lebih tinggi dari sang suami, Susan merasa lebih percaya diri.
"Aku jadi tidak bergantung lagi secara finansial pada suami,"
katanya.Hanya saja jika memang boleh memilih, Susan yang ibu satu anak itu
lebih suka menjadi ibu rumah tangga atau bekerja part time saja."Jadi aku
bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan putraku," katanya.Wanita
seperti Susan, meski bergaji lebih besar dari suaminya, harus berjuang untuk
menyeimbangkan tugasnya sebagai orangtua sekaligus dengan pekerjaannya.
Satu
dampak dari keterlibatan wanita dalam angkatan kerja adalah terjadinya konflik
antara kebutuhan untuk pengembangan diri dalam karir dengan nilai-nilai
tradisional yang melekat pada wanita. Hubungan antara
pekerjaan dan keluarga adalah dua arah (bidirectional), yaitu ranah
pekerjaan dapat mencampuri ranah keluarga (work to family conflict),
dan ranah keluarga dapat mencampuri ranah pekerjaan (family to work
conflict) (Adams dkk, 1996).
Konflik
seringkali terjadi karena tugas rumah tangga sering datang seiring dengan
tugasnya sebagai karyawan dan keduanya memerlukan perhatian yang sama besar,
waktu dan energi dibutuhkan untuk mencapai pemenuhan peran yang optimal.
Konflik antara ranah pekerjaan dan keluarga hadir pada saat individu harus
menampilkan multi peran: pekerja, pasangan, dan orang tua (Senecal dkk., 2001).
Bimbaum melaporkan bahwa satu dari enam wanita professional di Amerika
mengalami konflik dalam mengkombinasikan karir dan rumah tangga (Arinta & Azwar,
1993).
Pekerjaan
dan keluarga dapat menjadi stressful, stress dalam menghadapi peran
gandanya tersebut.Apalagi jika pekerjaan dan keluarganya memberi tekanan dalam
waktu yang bersamaan.Sebagai ibu yang memiliki anak, maka kewajibanya untuk
mengawasi tumbuh kembang si anak tersebu. Pada sisi lain dia juga harus
memikirkan tanggung jawab yang lain, yaitu tanggung jawab sebagai seorang
pemimpin pada suatu perusahaan yang juga memerlukan perhatian lebih agar
perusahaan yang dipimpin tetap berada pada jalurnya.
Konflik
yang terjadi pada peran di pekerjaan dan peran di keluarga menimbulkan
efek-efek negatif. Konflik pekerjaan - keluarga (work - family conflict)
oleh para ahli selalu dikaitkan dengan sumber stress yang mempengaruhi segi
fisik dan psikologis (Adams dkk.,1996). Frone, Russel, & Barnes (Major dkk,
2002) menyatakan bahwa konflik antara pekerjaan ke keluarga (work to family
conflict) mempunyai hubungan dengan depresi dan keluhan somatic.
Konflik yang berkepanjangan.Tidak saja dapat menurunkan kinerja, Tetapi
bisamenimbulkan stres.Stres terjadi karena konflik yang berkepanjangan
menimbulkan ketidakseimbangan fisik dan psikis, sebagai bentuk reaksi terhadap
tekanan yang intensitasnya sudah terlalu tinggi.
Dampak
yang ditimbulkan oleh konflik salah satunya adalah stress.Stress
bukan hanya bersifat personal, stress juga dapat terjadi di lingkungan
kerja. Menurut Selye (dalam Beehr, et al., 1992), pengertian dari stress
kerja adalah respon seorang individu terhadap stresor di tempat
kerja.Stres sebagai reaksi organisme, yang dapat berupa reaksi fisiologis,
psikologis, atau perilaku. Berdasarkan definisi di atas, stress kerja
dapat diartikan respon individu terhadap sumber atau stresor, dimana stresor
yang dimaksud adalah segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan
sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stress kerja yang dapat
memunculkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku.
Menurut
Stephen Palmer & Cary Cooper (2007), mengemukakan bahwa respon terhadap stres
dapat ditampilkan dalam 3 bentuk, yaitu bentuk fisik, perilaku dan
psikologis.Gejala yang ditimsbulkan dalam bentuk fisik, antara lain, mulut
kering, tangan lembab, sesak nafas, migrain, diare, asma bahkan sampai pingsan.
Gejala yang ditampilkan dalam bentuk perilaku, antara lain perilaku agresif,
meningkatkan konsumsi alkohol, menunda-nunda pekerjaan, perilaku pasif,
perubahan pola tidur, menurunnya performa kerja, meningkatkan absensi,
meningkatkan konsumsi kafein, manajemen waktu yang jelek. Sedangkan gejala
psikologis ditampilkan antara lain dalam bentuk marah, gelisah, ketakutan,
cemas, rasa malu, turunnya harga diri, keinginan bunuh diri, pikiran paranoid,
mimpi buruk, depresi, kecemburuan, tidak dapat berkonsentrasi, sering melamun.
Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh stress tersebut dapat mempengaruhi
kinerja karyawan saat bekerja, dan terganggunya kinerja karyawan tersebut bisa
memberikan kerugian bagi perusahaan
Konflik-konflik
yang dihadapi oleh wanita yang berperan ganda memerlukan pemecahan sebagai
upaya untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap masalah dan tekanan
yang menimpa mereka. Konsep untuk memecahkan permasalahan ini disebut dengan coping.
Coping dilakukan untuk menyeimbangkan emosi individu dalam situasi
yang penuh tekanan.Coping merupakan reaksi terhadap tekanan yang
berfungsi memecahkan, mengurangi dan menggantikan kondisi yang penuh tekanan
(Hapsari, dkk, 2002).
Akan
tetapi individu akan memberikan reaksi yang berbeda-beda dalam mengatasi
stress, tergantung pada pengalaman dan persepsi individu tentang stress.
Umumnya, coping terjadi secara otomatis, begitu individu merasakan
adanya situasi yang menekan atau mengancam, maka individu dituntut untuk
sesegera mungkin mengatasi ketegangan yang dialaminya. Tetapi dari
pengalamannya ini, individu akan melakukan evaluasi untuk seterusnya memutuskan
strategi coping apa yang seharusnya ditampilkan (Rustiana, 2003).
Menurut Lazarus dan Folkman menyatakan bahwa
strategi coping yang merupakan respon individu terhadap tekanan yang
dihadapi secara garis besar dibedakan atas dua fungsi utama yaitu: ProblemFocused
Coping (PFC) dan Emotional Focused Coping (EFC). PFC atau yang
biasa disebut strategi menghadapi masalah yang berorientasi pada masalah
merupakan usaha yang dilakukan oleh individu dengan cara menghadapi secara
langsung sumber penyebab konflik. EFC atau yang biasa disebut strategi
menghadapi masalah yang berorientasi pada emosi merupakan perilaku yang
diarahkan pada usaha untuk menghadapi tekanan-tekanan emosi atau stress yang
ditimbulkan oleh masalah yang dihadapi. (Folkman, S. Lazarus R.S. 1988)
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar