Rabu, 18 September 2013

Askeb komunitas Beban Ganda

Beban ganda (double burden)
A.    Definisi Beban Ganda
Double garden atau yang biasanya disebut beban ganda, merujuk kepadakenyataan bahwa perempuan cenderung bekerja lebih lama dan lebih sedikitharinya dibandingkan laki-laki sebagaimana biasanya mereka terlibat dalamtiga peran gender yang berbeda-reproduksi, produksi dan dan peran dimasyarakat.
Beban ganda perempuan merupakan salah satu bentuk ketidakadilangender yang tidak hanya terjadi di lapisasn sosial kelas atas dan menengahsaja. Beban ganda juga terjadi pada lapisan sosial kelas bawah, seperti dalamsebuah komunitas marginal. Komunitas marginal merupakan sebuah bagianmasyarakat yang memiliki lokalitas di wilayah tertentu, memiliki batas-batastertentu, memiliki interaksi sosial yang lebih besar diantara para anggotanyabila dibandingkan dengan anggota di luar kelompoknya, dan memiliki ciriyang sama.
Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis danpermanen.Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerjadiwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka diwilayah domestic. Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalahmensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, sepertipembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan.Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.
Perempuan yang melakukan pekerjaan di luar rumah seperti bertani,berdagang, membuat emping atau kesed juga tetap harus melakukan kerja-kerja reproduksi. Sehingga dalam sehari semalam, sebagian besar waktuperempuan dicurahkan untuk keluarganya. Berbagai observasi menunjukkan bahwa perempuan mengerjakan hampir90 persen dari pekerjaan dalam rumah tangga.Karena itu, bagi perempuanyang bekerja di luar rumah, selain bekerja di wilayah publik, mereka jugamasih harus mengerjakan pekerjaan domestic.
Berbagai bentuk diskriminasi merupakan hambatan untuk tercapainyakeadilan dan kesetaraan gender atau kemitrasejajaran yang harmonis antaraperempuan dan laki-laki, karena dapat menimbulkan:
a)      Konflik
b)      Stres pada salah satu pihak
c)      Relasi gender yang kurang harmonis
Perempuan harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan,membersihkan rumah dan dapur, mengasuh anak kemudian melakukanpekerjaannya sampai tengah hari untuk istirahat sejenak.repotnya, ketikaistirahatpun perempuan masih dibebani dengan pekerjaan di rumah;menyiapkan makan siang, mengasuh anak. Setelah itu baru melanjutkanpekerjaannya sampai sore.Untuk kembali melakukan pekerjaan reproduktif sampai malam. Di sela-sela waktu ini, beberapa perempuan masihmenyibukkan diri untuk mengerjakan pekerjaannya seperti membuat kesed,mengupas kulit mlinjo, dan lainnya.
Bandingkan dengan laki-laki yang bangun paginya sedikit lebih siangitupun hanya untuk menikmati minuman pagi dan sarapan, baru kemudianberangkat kerja sampai tengah hari. Lalu istirahat dan makan siang,melanjutkan pekerjaannya sampai sore, istirahat, makan dan bersantai sampaimelam hari. Di malam hari, paling mereka melakukan aktivitas social seperti ngendong ke tetangga, kumpulan RT, tahlilan dan lain-lain yangbiasanya hanya beberapa hari sekali.Dari contoh di atas, sangat terlihat adanya beban ganda perempuan, disatu sisi mereka harus mengerjakan pekerjaan reproduktif, di sisi lain, baik karena aktualisasi diri atau tuntutan ekonomi mereka melakukan kerja-kerjaproduktif. Tanpa adanya pembagian kerja-kerja reproduktif secara lebihseimbang.
Beban ganda yang dialami oleh perempuan sampai saat ini masihdianggap sebagai kewajaran dalam masyarakat kita.Padahal beban gandayang dialami oleh perempuan adalah salah satu bentuk kekerasan domestik sebagai dampak dari pembagian peran yang tidak seimbang antara laki-lakidan perempuan.
Pada saat ini wanita telah mengalami kemajuan dalam berbagai hal.Fenomena wanita bekerja bukan merupakan hal yang aneh lagi bagi masyarakat kita.Wanita jaman sekarang bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum pria.Dalam dunia politik pun tidak luput dari campur tangan wanita, bangsa Indonesia pun pernah di pimpin oleh pemimpin wanita.Hal ini dapat membuktikan bahwa wanita diberai kesempatan yang besar untuk menjalankan kiprahnya didunia kerja.
Perlu dipahami bahwa fenomena wanita berperan ganda sebagai ibu tumah tangga sekaligus bekerja diluar rumah, dan juga sebagai pemimpin wanita  sebenarnya sudah ada sejak dulu. Pada awal abad 19, di luar negeri wanita yang sebelumnya berfungsi sebagai pekeraja terampil pada usaha-usaha rumah tangga yang memproduksi sampai memasarkan mulai beralih.
Dampak dari revolusi industri membuat wanita banyak berpaling untuk melakukan pekerjaan di luar rumah untuk menghidupi dan menambah penghasilan keluarga.
Menurut data statistik Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) tahun 2003 – 2005. Pada tahun 2003 angkatan kerja wanita mencapai 35,479,000 atau 35.36% dari angkatan kerja keseluruhan, 25.55% dari 35 juta tersebut merupakan pekerja di sektor publik. Tahun 2004 angkatan kerja wanita naik menjadi 38,046,000 atau 34.66 % dari angkatan kerja keseluruhan, 27.58 % bekerja di sektor publik. Tahun 2005 juga mencatat kenaikan angkatan kerja wanita yang mencapai 39,580,488 atau 37.40 % dari angkatan kerja keseluruhan, 26.98% dari angka tersebut merupakan pekerja sektor publik.
Bekerja bagi setiap wanita adalah sebuah pilihan.Gerson (1985, dalam Nainggolan, dkk, 1996:78) menyatakan bahwa keputusan wanita untuk bekerja dipengaruhi oleh faktor yang sifatnya komulatif, interaktif dan terus berkembang dipengaruhi baik secara langsung atau tidak dari masyarakat, keluarga dan diri sendiri sehubungan dengan harapan-harapan tertentu terhadap peran wanita yang sekaligus ibu.
Keputusan untuk mengambil dua peran berbeda yaitu di rumah tangga dan di tempat kerja tentu diikuti dengan tuntutan dari dalam diri sendiri dan masyarakat. Tuntutan dari diri sendiri dan sosial ini menyerukan hal yang sama yaitu keberhasilan dalam dua peranan tersebut. Idealnya memang setiap wanita bisa menjalani semua peran dengan baik dan sempurna, namun ini bukanlah hal mudah.
Banyak wanita berperan ganda mengakui bahwa secara operasional sulit untuk membagi waktu bagi urusan rumah tangga dan urusan kantor (Izzaty, 1999). Dalam Hurlock (1992) bahwa wanita tidak menyukai kalau harus melaksanakan beban tugas ganda, satu tugas dalam dunia perkantoran dan satu lagi tugas rumah tangga.Wanita merasa bersalah karena menolak tugas rumah tangga, contohnya dari sekian banyak tugas rumah tangga hanya tugas merawat anak yang dapat dilakukan atau bahkan tugas ini dilakukan oleh baby sitter.Akibatnya bagi wanita pekerja, maka kehidupan rumah tangga mereka merasa tidak memuaskan.
B.  Contoh Kasus
Ini merupakan contoh kasus konflik pada wanita yang berperan ganda:
Deni dan Susan, adalah salah satu pasangan yang menjalani pernikahan dengan beda pendapatan tersebut. Saat Deni kena PHK dari pekerjaannya dengan jabatan sebagai manajer sebuah bank, ia pun harus mencari pekerjaan lain. Pekerjaan barunya kini ternyata gajinya lebih kecil dari sang istri, Susan yang bekerja sebagai kepala HRD sebuah perusahaan.  Kini setelah menjadi orang yang pendapatannya lebih tinggi dari sang suami, Susan merasa lebih percaya diri. "Aku jadi tidak bergantung lagi secara finansial pada suami," katanya.Hanya saja jika memang boleh memilih, Susan yang ibu satu anak itu lebih suka menjadi ibu rumah tangga atau bekerja part time saja."Jadi aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan putraku," katanya.Wanita seperti Susan, meski bergaji lebih besar dari suaminya, harus berjuang untuk menyeimbangkan tugasnya sebagai orangtua sekaligus dengan pekerjaannya.
Satu dampak dari keterlibatan wanita dalam angkatan kerja adalah terjadinya konflik antara kebutuhan untuk pengembangan diri dalam karir dengan nilai-nilai tradisional yang melekat pada wanita.     Hubungan antara pekerjaan dan keluarga adalah dua arah (bidirectional), yaitu ranah pekerjaan dapat mencampuri ranah keluarga (work to family conflict), dan ranah keluarga dapat mencampuri ranah pekerjaan (family to work conflict) (Adams dkk, 1996).
Konflik seringkali terjadi karena tugas rumah tangga sering datang seiring dengan tugasnya sebagai karyawan dan keduanya memerlukan perhatian yang sama besar, waktu dan energi dibutuhkan untuk mencapai pemenuhan peran yang optimal. Konflik antara ranah pekerjaan dan keluarga hadir pada saat individu harus menampilkan multi peran: pekerja, pasangan, dan orang tua (Senecal dkk., 2001). Bimbaum melaporkan bahwa satu dari enam wanita professional di Amerika mengalami konflik dalam mengkombinasikan karir dan rumah tangga (Arinta & Azwar, 1993).
Pekerjaan dan keluarga dapat menjadi stressful, stress dalam menghadapi peran gandanya tersebut.Apalagi jika pekerjaan dan keluarganya memberi tekanan dalam waktu yang bersamaan.Sebagai ibu yang memiliki anak, maka kewajibanya untuk mengawasi tumbuh kembang si anak tersebu. Pada sisi lain dia juga harus memikirkan tanggung jawab yang lain, yaitu tanggung jawab sebagai seorang pemimpin pada suatu perusahaan yang juga memerlukan perhatian lebih agar perusahaan yang dipimpin tetap berada pada jalurnya.
Konflik yang terjadi pada peran di pekerjaan dan peran di keluarga menimbulkan efek-efek negatif. Konflik pekerjaan - keluarga (work - family conflict) oleh para ahli selalu dikaitkan dengan sumber stress yang mempengaruhi segi fisik dan psikologis (Adams dkk.,1996). Frone, Russel, & Barnes (Major dkk, 2002) menyatakan bahwa konflik antara pekerjaan ke keluarga (work to family conflict) mempunyai hubungan dengan depresi dan keluhan somatic. Konflik yang berkepanjangan.Tidak saja dapat menurunkan kinerja, Tetapi bisamenimbulkan stres.Stres terjadi karena konflik yang berkepanjangan menimbulkan ketidakseimbangan fisik dan psikis, sebagai bentuk reaksi terhadap tekanan yang intensitasnya sudah terlalu tinggi.
Dampak yang ditimbulkan oleh konflik salah satunya adalah stress.Stress bukan hanya bersifat personal, stress juga dapat terjadi di lingkungan kerja. Menurut Selye (dalam Beehr, et al., 1992), pengertian dari stress kerja adalah respon seorang individu terhadap stresor di tempat kerja.Stres sebagai reaksi organisme, yang dapat berupa reaksi fisiologis, psikologis, atau perilaku. Berdasarkan definisi di atas, stress kerja dapat diartikan respon individu terhadap sumber atau stresor, dimana stresor yang dimaksud adalah segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan karyawan sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stress kerja yang dapat memunculkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku.
Menurut Stephen Palmer & Cary Cooper (2007), mengemukakan bahwa respon terhadap stres dapat ditampilkan dalam 3 bentuk, yaitu bentuk fisik, perilaku dan psikologis.Gejala yang ditimsbulkan dalam bentuk fisik, antara lain, mulut kering, tangan lembab, sesak nafas, migrain, diare, asma bahkan sampai pingsan. Gejala yang ditampilkan dalam bentuk perilaku, antara lain perilaku agresif, meningkatkan konsumsi alkohol, menunda-nunda pekerjaan, perilaku pasif, perubahan pola tidur, menurunnya performa kerja, meningkatkan absensi, meningkatkan konsumsi kafein, manajemen waktu yang jelek. Sedangkan gejala psikologis ditampilkan antara lain dalam bentuk marah, gelisah, ketakutan, cemas, rasa malu, turunnya harga diri, keinginan bunuh diri, pikiran paranoid, mimpi buruk, depresi, kecemburuan, tidak dapat berkonsentrasi, sering melamun. Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh stress tersebut dapat mempengaruhi kinerja karyawan saat bekerja, dan terganggunya kinerja karyawan tersebut bisa memberikan kerugian bagi perusahaan
Konflik-konflik yang dihadapi oleh wanita yang berperan ganda memerlukan pemecahan sebagai upaya untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap masalah dan tekanan yang menimpa mereka. Konsep untuk memecahkan permasalahan ini disebut dengan coping. Coping dilakukan untuk menyeimbangkan emosi individu dalam situasi yang penuh tekanan.Coping merupakan reaksi terhadap tekanan yang berfungsi memecahkan, mengurangi dan menggantikan kondisi yang penuh tekanan (Hapsari, dkk, 2002).
Akan tetapi individu akan memberikan reaksi yang berbeda-beda dalam mengatasi stress, tergantung pada pengalaman dan persepsi individu tentang stress. Umumnya, coping terjadi secara otomatis, begitu individu merasakan adanya situasi yang menekan atau mengancam, maka individu dituntut untuk sesegera mungkin mengatasi ketegangan yang dialaminya. Tetapi dari pengalamannya ini, individu akan melakukan evaluasi untuk seterusnya memutuskan strategi coping apa yang seharusnya ditampilkan (Rustiana, 2003).
 Menurut Lazarus dan Folkman menyatakan bahwa strategi coping yang merupakan respon individu terhadap tekanan yang dihadapi secara garis besar dibedakan atas dua fungsi utama yaitu: ProblemFocused Coping (PFC) dan Emotional Focused Coping (EFC). PFC atau yang biasa disebut strategi menghadapi masalah yang berorientasi pada masalah merupakan usaha yang dilakukan oleh individu dengan cara menghadapi secara langsung sumber penyebab konflik. EFC atau yang biasa disebut strategi menghadapi masalah yang berorientasi pada emosi merupakan perilaku yang diarahkan pada usaha untuk menghadapi tekanan-tekanan emosi atau stress yang ditimbulkan oleh masalah yang dihadapi. (Folkman, S. Lazarus R.S. 1988)






DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar